Search This Blog

feromon

Golongan Feromon Baru DitemukanOleh Soetrisno
Ilmuwan di Amerika Serikat telah menemukan sebuah golongan feromon baru yang bisa mempengaruhi perilaku kawin pada mamalia. Peneliti di Universitas Washington, St. Louis, telah menunjukkan bahwa
steroid-steroid bersulfat, yang diekskresikan dalam urin mencit betina, dapat merangsang sebuah organ sensoris dalam hidung mencit jantan dan mamalia lain. Mereka mengatakan senyawa ini penting dalam komunikasi sosial dan bisa membantu mencit jantan mencari pasangan.
Timothy Holy dan rekan-rekannya menggunakan teknik fraksionasi dan spektrometri massa untuk mengidentifikasi senyawa tersebut, yang mengaktivasi sel-sel saraf dalam sebuah organ yang disebut organ vomeronasal. Mereka menemukan bahwa steroid bersulfat memicu terjadinya berbagai aktivitas sensoris dalam organ tersebut. "Telah ada beberapa laporan tentang senyawa-senyawa lain yang merangsang sel-sel ini," kata Holy. "Tetapi kali ini, untuk pertama kalinya, saya pikir kami menemukan sebuah golongan senyawa utama yang secara kolektif merangsang banyak sel."
Dua steroid bersulfat yang mengaktivasi organ vomeronasal mencit.
Pada mamalia, hormon-hormon steroid dinonaktifkan sebelum eksresi dengan penambahan gugus sulfat. Steroid yang mengandung sulfat diketahui digunakan oleh ikan untuk pensinyalan, tetapi belum pernah dikenali sebagai feromon aktif pada mamalia.
Holy mengatakan senyawa ini bisa terlibat dalam pensinyalan stress dan komunikasi sosial pada berbagai mamalia. Tim peneliti ini sebelumnya telah menunjukkan bahwa mencit yang stress menghasilkan kadar salah satu steroid sulfat yang lebih tinggi, yang dari segi struktur mirip dengan kortikosteron, sebuah regulator stress pada hewan pengerat.
Peter Brennan, yang meneliti sistem vomeronasal di Universitas Bristol, Inggris, mengatakan bahwa mencit jantan bisa menggunakan hormon-hormon steroid tersebut untuk menilai status reproduksi dari pasangan-pasangan potensialnya. "Kemampuan untuk mengindera senyawa-senyawa ini memungkinkan mencit untuk mengenali berbagai tahapan siklus reproduksi dari mencit betina. Ini mungkin salah satu alasan mengapa senyawa-senyawa ini tidak dihasilkan pada mamalia jantan, karena mamalia jantan tidak memiliki siklus reproduksi." Akan tetapi dia mengatakan senyawa-senyawa ini bisa menimbulkan berbagai efek terhadap perilaku dan dia mengingatkan untuk tidak membuat pendapat spekulatif tentang peranan senyawa ini tanpa adanya bukti perilaku.
Holy menganggap penelitian ini bisa membantu merubah persepsi kita tentang peranan feromon, yang sudah lazim dianggap sebagai lonceng alarm kimiawi. "Mungkin yang terjadi adalah bahwa penerima sinyal mengevaluasi si pengirim, dan bukan pengirim yang mentransmisikan sinyal pemikat yang menyebabkan penerima tergila-gila," ungkapnya.
Disadur dari: http://www.rsc.org/chemistryworld/